Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Pabrik Drone AS di Kyiv Hancur Dihantam Rudal Rusia

Kyiv; Serangan rudal balistrik Rusia hancurkan fasilitas Terminal Autonomy di Kyiv, menandai insiden pertama yang menargetkan kepemilikan perusahaan Amerika Serikat dalam konflik Ukraina

Drone serbu jarak jauh. Pabrik yang dihantam oleh Rusia tersebut memproduksi drone serbu jarak jauh AQ-400 Scythe dan AQ-100 Bayonet (Foto: Valentyn Ogirenko/Reuters)
Drone serbu jarak jauh. Pabrik yang dihantam oleh Rusia tersebut memproduksi drone serbu jarak jauh AQ-400 Scythe dan AQ-100 Bayonet (Foto: Valentyn Ogirenko/Reuters)

 Sebuah fasilitas manufaktur drone di Kyiv, Ukraina, mengalami kehancuran total setelah menjadi sasaran hantaman rudal balistrik Rusia Kamis 30 Juli 2026.

Berdasarkan catatan korporasi resmi, pabrik tersebut dimiliki oleh sebuah perusahaan yang terdaftar di Negara Bagian Delaware, Amerika Serikat. Peristiwa ini diidentifikasi sebagai insiden pertama di mana Moskow secara langsung menghantam aset industri pertahanan milik korporasi asal Amerika Serikat sejak invasi bermula.

Perusahaan yang menjadi target serangan tersebut adalah Terminal Autonomy, sebuah entitas yang memproduksi wahana nirawak presisi jarak jauh. Menurut seorang narasumber yang mengetahui operasional perusahaan, lini produksi pabrik ini berfokus pada pembuatan sistem pemandu yang dirancang agar kebal terhadap gangguan sinyal peperangan elektronik atau jamming yang dioperasikan oleh militer Rusia.

Istilah terminal autonomy merujuk pada fase terminal dalam operasi drone kamikaze. Pada tahap krusial ini, kecerdasan buatan atau artificial intelligence mengambil alih kendali penuh atas navigasi senjata ketika pasukan pertahanan lawan berhasil memutus gelombang radio maupun jaringan seluler.

Dokumen negara menunjukkan bahwa korporasi tersebut resmi didirikan di Delaware pada tahun 2023. Situs web resmi perusahaan menyatakan bahwa mereka mengerahkan amunisi berkeliaran berpemandu kecerdasan buatan dan amunisi presisi, yang diklaim telah aktif beroperasi di garis depan pertempuran untuk melumpuhkan aset musuh. 

Hingga berita ini diturunkan, pihak Terminal Autonomy maupun Kementerian Pertahanan Ukraina belum memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi yang dikirimkan melalui surat elektronik.

Anthony Vinci, seorang mantan pejabat senior intelijen Amerika Serikat sekaligus penulis buku The Fourth Intelligence Revolution: The Future of Espionage and the Battle to Save America, memberikan pandangannya mengenai eskalasi tersebut.

"Pihak Rusia tidak mempedulikan siapa pemilik fasilitas manufaktur tersebut. Bagi mereka, fasilitas itu tetaplah sebuah target militer yang sah. Mereka tidak peduli apakah pabrik itu milik entitas Amerika atau pihak lainnya," ujar Vinci.

Pernyataan tersebut mengemuka di tengah dinamika kebijakan luar negeri Washington. Pada awal bulan Juli, Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan memberikan izin lisensi kepada Ukraina untuk memproduksi sistem pertahanan udara Patriot secara mandiri di dalam negeri.

Menanggapi wacana tersebut, Anthony Vinci menilai bahwa kehadiran fasilitas produksi sistem pertahanan strategis milik Amerika di Ukraina akan mempertinggi risiko eskalasi militer. "Saya meyakini bahwa jika rudal Patriot atau sistem pertahanan Amerika lainnya diproduksi di Ukraina, Rusia pasti akan menargetkan fasilitas manufaktur tersebut," imbuhnya.

Kantor berita resmi pemerintah Rusia, Tass, menjadi pihak pertama yang melaporkan insiden penyerangan ini dengan mengutip keterangan resmi dari Kementerian Pertahanan Rusia. 

Dalam laporan awalnya, Tass tidak secara eksplisit menyebutkan bahwa pabrik tersebut dimiliki oleh perusahaan Amerika, namun mengonfirmasi bahwa para spesialis dari sebuah perusahaan patungan Ukraina-Amerika pernah beraktivitas di lokasi tersebut. Tass juga melaporkan secara akurat bahwa fasilitas itu memproduksi jenis drone AQ-400 Scythe dan AQ-100 Bayonet.

Hingga kini perusahaan memastikan bahwa tidak ada korban jiwa yang jatuh akibat serangan rudal tersebut.(*)

Hide Ads Show Ads